Sejarah Desa Pangkahkulon
Desa Pangkahkulon merupakan salah satu dari 13 desa yang terletak wilayah administrasi kecamatan Ujungpangkah kabupaten Gresik, mempunyai sejarah sebagai berikut :
Pangkah sebagai salah satu wilayah di pantai utara Pulau Jawa sejak dulu memiliki fungsi strategis dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang keagamaan.
Pantai Pangkah dulu menjadi pelabuhan bagi pedagang yang berasal dari luar pulau maupun pedagang dari mancanegara. Sejak tempo dulu pelabuhan Pangkah juga dijadikan sebagai pangkalan para penyebar agama Islam di Pulau Jawa, khusunya Jawa Timur. Salah satu bukti bahwa Pangkah tempo dulu sebagai pelabuhan yang amat penting peranannya adalah masih adanya bukti sejarah berupa bangkai kapal Belanda. Cerobong bangkai kapal itu hingga kini masih dapat disaksikan. Bangkai kapal itu menjadi saksi keberadaan pelabuhan Pangkah.
Pangkah yang dijadikan sebagai nama desa itu merupakan akronim. Kata pangkah berasal dari kata “Pang” dan “Mekkah”. Kata Pang berasal dari Bahasa Jawa yang berarti cabang, sedangkan Mekkah adalah nama kota yang berada di Saudi Arabia. Dari nama itu dapat dilihat adanya hubungan erat antara Pangkah dengan Mekkah.
Dahulu, Pangkah merupakan wilayah yang dianggap angker. Tidak ada seorangpun yang berani tingal di wilayah ini. Pangkah dikenal sebagai wilayah gong liwang liwong, jalma mara jalma mati. Oleh karena itu Pangkah dianaggap sebagi daerah larangan.
Suatu saat datang seorang pengembara bernama Jeniko atau Ki Ageng Jumika. Jeniko dipercaya sebagai satu-satunya orang yang mampu tinggal di pangkah. Beliau tinggal di Pangkah bersama anak keturunannya. Untuk menyelamatkan keluarganya dari gangguan makhluk ghaib, Jeniko mengikutijejak Syekh Subakir dengan memasang tumbal atau jimat di empat pojok desa Pangkah dan satu berada di tengah desa. Jimat itu dikenal dengan jimat Poncopat.
Sepeninggal Jeniko, Pangkah mengalami kefakuman kepemimpinan berpuluh tahun. Baru pada tahun 1500-an masehi, Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban datang ke Pangkah untuk menyebarkan agama Islam. Di Pangkah Jayeng Katon ditemani adiknya bernama Jayeng Rono beserta Pendil Wesi putra pertamanya. Jayeng Katon mendirikan rumah di tepi pantai sekaligus berfungsi sebagai tempat dakwah, tempat itu dikenal dengan Pondok Pangkah.
Perkembangan pondok Pangkah yang pesat menggugah Sunan Bonang untuk memgutus Kyai Maskiriman mengirimkan kayu jati sebagai bahan pendirian masjid. Dan kemudian berdirilah masjid Pangkah yang dikenal dengan Masjid jami Ainul Yaqin.
Ketika Jayeng Katon berada di Pangkah, istri beliau bernama Nyai Jika sedang beribadah haji di Mekah. Sepulang dari Mekah beliau mengikuti jejak suaminya ke Pangkah. Nyai Jika merupakan putri saudagar kaya dari Mekah. Oleh karena itulah anak keturunan Jayeng Katon dan Nyai Jika dikenal dengan cabang /pang kota Mekkah
Sebelum menjadi Desa pangkahkulon dan Desa Pangkahwetan, Pangkah merupakan satu kesatuan administratif dibawah kepemimpinan petinggi seumur hidup yang bernama H. Syamsul Anam. Karena luas wilayah terlalu besar maka akhirnya Desa tersebut di pecah menjadi dua yaitu Pangkahkulon dan Pangkahwetan, pada zaman penjajahan estafet kepemimpinan Desa Pangkahkulon di serahkan kepada menantunya yang bernama H. Masykuri mulai tahun 1942 – 1976. Beliau adalah Kepala Desa yang dermawan, karena sangat terpengaruh oleh gaya kehidupan masyarakat Ujungpangkah.
Karena adanya semangat perubahan maka desa ini pada tahun 1976 baru di adakan pemilihan Kepala Desa secara langsung oleh masyarakat dan di menangkan secara mutlak oleh Moch. Achir dan menjabat mulai tahun 1976 - 1989. Adapun kepala desa yang pernah menjabat selanjutnya hingga sekarang adalah sebagai beriikut: H. Shohibulliwa’ (Tahun 1990 s.d 1997), Moch. Achir (Tahun 1997 s.d 2006), A. Tauhid Susanto, S.IP. (Tahun 2007 s.d 2013), Ahmad Fauron, S.Sos.I (Tahun 2013 sampai sekarang).